
TANYA JAWAB TENTANG HIDUP DI BIARA KONTEMPLATIF
TANYA JAWAB TENTANG HIDUP DI BIARA KONTEMPLATIF

1. Sudah berapa lama hidup sebagai anggota OCD?
Saya Sr. Agustina, OCD lahir di Jakarta dari Paroki Stella Maris Pluit dan sudah 27 tahun hidup membiara. 22 tahun di Karmel Lembang dan 5 tahun di Jakarta, Biara Karmel St. Yosef di Klender.
2. Bagaimana rasanya membaktikan diri sebagai suster pertapa?
Saya merasa bersyukur mendapat anugerah panggilan ini. Menjadi seorang pertapa tidak pernah terlintas dalam benak saya dulu. Ini merupakan rahmat semata dari Tuhan dan saya bahagia. Dan juga kami bersyukur dapat menjadi pendoa di tengah kota Jakarta. Memang tidak semua orang dapat memahami panggilan khusus ini apalagi di kota besar seperti Jakarta di mana hidup rohani dipersempit dengan keaktifan. Jadi hidup seperti ini sedang melawan arus. Kalau di luar dalam pelayanan misalnya banyak buat ini dan itu selalu penuh dengan aktivitas tetapi bisa jadi semua hanya di permukaan dan kurang kedalaman. Hidup kami sebagai pertapa yang tersembunyi, tertutup, sering menjadi pertanyaan bagi orang-orang yang aktif ini tetapi di sini yang kami perjuangkan adalah relasi yang intim dengan Tuhan karena tanpa relasi yang intim dengan Tuhan segala sesuatu yang paling hebat sekalipun, itu akan sia-sia. Kalau tidak bersumber pada Tuhan sendiri. Sebagai pertapa masuk ke dalam kedalaman. Bagi saya ini membuat hidup begitu sederhana dan bermakna.
3. Apa yang menurut Suster panggilan utama seorang pertapa?
Panggilan utama seorang pertapa atau seorang kontemplatif adalah menjadi pendoa, berdoa bagi para imam, bagi para calon imam, umat, orang-orang yang berkesusahan, bagi mereka yang sudah lagi tidak berdoa, tidak tahu berdoa dan tidak mau berdoa, bagi bangsa dan negara dan bagi dunia. Kami menjadi suara Gereja yang berdoa dan menjadi jantung dalam Gereja. Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus dan seperti tubuh harus mempunyai jantung supaya tetap hidup. Jantung letaknya tersembunyi, tidak kelihatan tetapi jantung mempunyai fungsi yang vital yaitu memompa darah keseluruh bagian tubuh sehingga tubuh mengalami kehidupan. Itulah peran utama kami sebagai pertapa. Panggilan sebagai pertapa seperti kami juga seperti Bunda Maria waktu di pernikahan di Kana. Bunda Maria hadir di situ dengan hati yang penuh perhatian dan ketika pengantin kehabisan anggur, Bunda Maria terlibat untuk memberi tanggapan dengan cara menyampaikan masalah ini kepada Yesus dan terjadilah mujizat. Panggilan kami adalah hadir bersama Yesus dan menyampaikan kepada Tuhan Yesus apa yang menjadi keluh kesah, sukacita dan dukacita yang dialami oleh umat
4. Apa yang membuat Suster “kerasan” tinggal dalam biara di tengah kota?
Sudah 5 tahun kami berada di Jakarta, Puji Tuhan kami semua merasa kerasan tinggal dalam biara di tengah kota. Biara kami adalah biara yang unik karena biasanya biara kontemplatif berada di dataran tinggi, sunyi, dan luas. Sedangkan biara kami berada di tengah kota malahan dekat jalan, yang terdengar lalu lalang kendaraan, di tempat yang panas tetapi kami bahagia dan merasa kerasan. Dan selalu bersyukur. Mengapa? Yang pertama, karena dari Keuskupan Agung Jakarta terutama dalam diri Bapa Uskup sendiri: Bapa Ignatius Kardinal Suharyo yang sangat kami kasihi yang telah mengundang kami dan memberi perhatian dan dukungan. Dan juga dukungan para imam dan teman- teman awam dan umat yang sungguh menolong keberadaan kami Di KAJ ini. Yang kedua, menjadi pendoa di tengah kota sudah menjadi misi atau “passion” bagi kami. Yaitu menjadi pendoa; menjadi oase di tengah kebisingan kota serta banyak orang begitu sibuk dan juga banyak keputusan penting di buat di ibukota, itu mendorong saya untuk sungguh banyak berdoa. Yang ketiga setelah mempelajari sejarah Keuskupan Agung Jakarta maupun kota Jakarta sendiri, dari zaman dahulu kala kota ini sudah berlumuran darah dan itu membutuhkan silih dan doa. Kami persembahkan itu semua kepada Tuhan dan memohon pengampunan dan damai.
5. Apa yang menjadi perhatian utama dalam hidup keseharian?
Hidup kami amat sederhana, suatu hidup yang monoton dan sudah ada jadwal harian yang sama terus, Jadi dari masuk biara (dari postulant) sampai ajal menjemput. Jadi intinya sama terus, dalam menjalani rutinitas harian. Di sini penting untuk menjaga hati agar hati ini damai, hati ini hening dan fokus pada kehadiran Tuhan dan apa yang sedang dikerjakan. Seperti kata dari Orang kudus kami, St. Theresia dari Lisieux mempunyai moto terkenal: melakukan yang kecil, sederhana dan dengan cinta yang luar biasa. Ini akan mengalirkan rahmat dan berbuah bagi jiwa-jiwa.
6. Apakah sebagian besar waktu dilalui dalam keheningan?
Sebagian besar waktu kami lalui dalam keheningan. Dari bangun pagi, Ibadat Pagi, Misa pagi, makan pagi, ada dua jam doa hening pagi dan sore. Kami bekerja dalam keheningan, tidak ngobrol dengan yang lain. Waktu makan juga kami diam sambil mendengarkan bacaan. Ada seorang suster ditugaskan untuk membaca sementara kami makan. Sumber bacaan bisa dari majalah Hidup, buku rohani atau Koran Kompas.
7. Bagaimana rasanya? Bagaimana cara mengakrabi keheningan?
Keheningan itu suatu yang sangat indah. Jiwa yang terpanggil dalam hidup kontemplatif. Dia akan selalu mencari keheningan. Dalam keheningan kita dapat bertemu dengan Tuhan dan juga mendapat kekuatan batin. Buat saya hidup dalam keheningan ini sudah seperti nafas hidup saja. Kalau harus keluar biara karena mengantar suster yang sakit ke dokter atau urusan lain, rasanya seperti ikan keluar dari air. Tetapi kalau sudah kembali ke biara, ada kedamaian dan kelegaan kembali. Keheningan merupakan bagian penting dari hidup saya, sesuatu yang bernilai, jadi sesuatu yang dirindukan. Misalnya kalau sedang banyak tugas yang harus dikerjakan, ada kerinduan untuk nanti bisa hening bersama Tuhan. Keheningan bersama Tuhan itu memberikan kekuatan batin untuk dapat terus berjalan dalam peziarahan hidup ini. Semoga para imam dan umat maupun semua orang di KAJ, di dalam keheningan mendapat kekuatan batin, kedamaian, bertemu dengan Tuhan dan juga bisa membuat keputusan dengan hati yang lebih jernih.
8. Apa yang menurut suster, tantangan terbesar hidup sebagai pertapa?
Hidup sebagai pertapa juga banyak tantangannya. Meskipun selalu di dalam, di tempat yang sama dan tidak ada yang boleh masuk, hidup dengan orang sama; dalam biara tertutup tantangan dan godaan, dapat terjebak dalam rutinitas dan juga yang bersumber dari hati. Hidup seturut lonceng atau jadwal harian, sekedar rutinitas sehingga hidup ini tidak dimaknai dan tidak direfleksikan. Di dalam jiwa sudah tidak ada apinya lagi, untuk sungguh bergiat bagi Tuhan. Tidak mempunyai lagi intensi berdoa bagi banyak orang. Tantangan terbesar sebagai pertapa adalah kesibukan berlebihan, kerja ini atau kerja itu, melayani banyak orang yang meminta doa dan terserap di dalamnya, sehingga kurang ada waktu untuk merawat hidup rohani, merawat api panggilan di dalam, kurang refleksi dan mengolah hidup batin.
9. Kapan bisa saling menyapa atau berbagi dengan anggota komunitas?
Selain waktu-waktu hening, kami juga ada waktu untuk saling menyapa dan berbagi dengan sesama anggota komunitas. Setelah makan siang dan makan malam ada rekreasi. Nah di sini kami bisa bercakap-cakap dan berbagi cerita sambil santai membuat pekerjaan tangan seperti buat Rosario, menjahit atau kalau lagi tugas dapur, kupas bawang. Ada juga suster yang membagikan berita mengenai apa yang sedang terjadi di luar. Secara teratur dalam jam rekreasi kami mengadakan pertemuan komunitas, sharing Kitab Suci dan studi bersama.
10. Sejauh mana peran anggota komunitas dalam jalan panggilan?
Peran sesama Suster dalam jalan panggilan sangat besar sekali perannya. Saling mengasihi, saling mengasah dan saling mangasuh. Saya merasa sungguh terberkati hidup dengan sesama Suster dengan cita-cita yang sama dan saling mendukung dalam suka maupun duka. Apalagi dengan misi di Jakarta ini. Sebenarnya hidup kami sebagai suster kontemplatif dan ini tidak diduga oleh kebanyakan orang, hidup seperti ini hanya punya waktu sangat sedikit untuk diri sendiri. Kami tidak ada cuti dan liburan atau jalan- jalan dan sebagian besar waktu untuk doa dan kerja. Kerja ini juga untuk melayani komunitas terutama anggota komunitas yang lemah seperti suster-suster yang sudah lanjut usia. Saling melayani ini mendewasakan panggilan. St Yohanes dari Salib mengatakan bahwa sesama anggota komunitas adalah seniman- seniman yang ditempatkan Tuhan untuk memahat dan mengukir saya menjadi karya seni yang indah. Memahat dengan perkataan atau tindakan yang tidak saya suka. Tetapi dengan membiarkan diri dipahat dan diukir, saya semakin didewasakah dan hidup rohani menjadi lebih mendalam.
11. Apakah pernah mengalami konflik dalam relasi komunitas? Misalnya? Bagaimana mengatasi?
Selama hidup dengan orang lain pasti bisa terjadi konflik relasi. Apalagi tiap pribadi itu unik. Jadi bisa terjadi salah paham dan salah tangkap. Konflik hanya bisa diatasi dengan pengampunan dan menerima sesama apa adanya. Dan satu hal sungguh kami syukuri bahwa di dalam biara kami tidak ada seorangpun yang berkehendak untuk menyakiti atau berbuat jahat.
12. Bagaimana pembagian tugas atau pekerjaan dalam biara diatur? Siapa mengatur? Sejauhmana boleh menolak tugas tersebut?
Di biara ada pimpinan atau Priorin yang mengatur dan mempercayakan tugas-tugas kepada para Suster. Dan setiap minggu ada tugas-tugas yang digilir. Semuanya kami kerjakan sendiri seperti pekerjaan rumah tangga bahkan kami juga menjahit jubah kami. Biasanya sebelum diberi tugas besar Priorin akan mengajak bicara dulu apakah susternya sanggup. Dan biasanya para suster akan menerima dengan baik karena mereka menyadari nilai tertinggi dari sebuah ketaatan.
13. Kapan seorang pertapa boleh pergi keluar biara?
Kami memang tidak pernah keluar biara kecuali kalau harus ke dokter, pemilu atau mengurus urusan biara yang tidak bisa diserahkan kepada orang lain. Memang kami tidak ada cuti tetapi kalau orangtua sakit keras atau ada keluarga inti yang meninggal kami diizinkan pulang sebentar. Tetapi kalau ada yang menikah kami tidak keluar.
14. Bagaimana seseorang tahu bahwa dia terpanggil menjadi seorang pertapa?
Ada tanda-tanda yang bisa dilihat dan dirasakan. Misalnya bila seorang pemudi tertarik biasanya ada rasa kangen dan rindu ke biara, cocok dengan cara hidup ini. Tetapi semua berproses. Formasi untuk menjadi suster kontemplatif sebelum kaul agung 9 tahun, waktu yang cukup lama untuk sungguh melihat dan merasakan memang di Karmel adalah panggilan hidupnya.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH
Aku merindukan nya tetapi dimana kutemukan yg mengena hati yang terdalam ku kontemplatif atau aktif