
St. Elisabeth, Karmelites yang Hidupnya sebagai “Pujian Kemuliaan-Nya”
Pada setiap tanggal, 8 Nopember kita memperingati Rubiah Karmel yang suci yaitu, Santa Elisabeth dari Tritunggal Mahakudus, OCD.
Mari kaum muda kita berkenalan dengan salah satu orang kudus Karmel di bulan Nopember ini. Elisabeth seorang pemudi asal Perancis (1880-1906). Ia memiliki pribadi yang menarik sekaligus rendah hati. Ia pemudi yang manis tutur katanya, lagi cantik perawakannya dan sangat modis sesuai dengan zamannya.
Sejak kecil ia telah pandai bermain piano dikarenakan ibunya ingin anaknya menjadi pianis terkenal dan sukses. Padahal Elisabeth bercita-cita ingin menjadi ‘bintang film’, wah hebat bukan! Namun tujuannya menjadi ‘bintang film’ bukan untuk tenar dan terkenal di layar besar tetapi untuk memikat banyak orang kembali mencintai Tuhan. Sebab lewat ‘film’ ia ingin memperlihatkan kepada masyarakat hidup yang saleh dan setia pada Allah Sang Pemberi kehidupan, serta mengangkat kasih persaudaraan dalam ‘Hidup Keluarga’ dan kerukunan dalam ‘Hidup Bermasyarakat’. Dengan kata lain ia bercita-cita membintangi film-film yang suci.
Demikianlah terlintas dalam benaknya. Sedangkan di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin sekali menjadi suster Karmel di Biara OCD, di Dijon, Perancis. Dan ibunya belum siap mendengar permohonannya itu, dan setiap kali ibunya berkata: “ Usiamu belum 21 tahun! ” Ia pun bersabar hati dan tekun berdoa kepada Bunda Maria, agar Bunda Maria yang meluluhkan hati ibunya. Pergumulan lahir batin dihadapinya dengan tabah. Lagi pula ia tetap gembira menerima tawaran untuk bermain piano dalam event-event khusus yang diselenggarakan kenalan-kenalan ibunya atau sanak saudara pihak ibunya. Bahkan masih mengikuti konser-konser piano yang mana permainannya selalu dipandang terbaik.
Ia secara diam-diam tetap terus memelihara kerinduannya untuk menjadi seorang suster Karmel. Akhirnya setelah banyak berjuang lahir dan batin ia pun mendapat restu dari ibunya (yang sudah menjanda), yang baginya merupakan sukacita yang besar untuk lancar dan mantap memasuki biara Karmel, di Dijon, Perancis.
Semua suster mengasihinya. Ia menempuh masa postulan, novisiat dan akhirnya ia mengikrarkan Kaul Agungnya, pada tanggal 11 Januari 1903, di Biara Karmel di Dijon, Perancis.
Milik Kristus yang Tersalib Saat itu pula, ia sungguh seutuhnya menyadari kedudukannya sebagai Mempelai Kristus, katanya: “Mendengar Dia, yang sebgitu banyak berhak bicara bagi kita….(Srt.71) Pertama kalinya, ia menggunakan istilah “Pujian Kemuliaan-Nya” yaitu pada surat yang ditulisnya kepada Andre Chevignard. (Ini kata-kata dari St. Paulus kepada umat di Efesus.) Kemudian puncaknya, kata-kata ini terakhir dipakainya untuk adiknya tercinta, di akhir April 1906; “Aku akan menjadi “Laudem Gloriae” di depan singgasana Anak Domba. Sedang engkau akan menjadi “Laudem Gloriae” dalam lubuk jiwamu. Kita akan selalu bersatu.” Nah, sejak ia menemukan istilah ini, ia semakin banyak membaca surat-surat St. Paulus dan mengutipnya.
Dengan kemampuan asimilasinya, ia dengan tepat menggunakan kutipan-kutipan sebagai ungkapan pribadi. Juga penjelasan tentang istilah ke-Bapa-an Allah dan ke-Putra-an Yesus, disebut-sebutnya kepada adiknya Guite. Santa Elisabeth, sadar sedalam-dalamnya bahwa untuk sampai menjadi “Pujian Kemuliaan-Nya” penghalangnya adalah cinta diri, maka ia berdoa: Ia mengingatkan pada dirinya, bahwa hidup kontemplatif; mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk Tuhan. Sebagaimana diungkapkannya lewat surat-surat kepada keluarga dan kenalan-kenalannya; “Tolonglah, aku ya Tuhan untuk melupakan diriku seluruhnya“
“ Hidup seorang Rubiah Karmel diatas segala-galanya adalah Kontemplatif, seperti St. Maria Magdalena. Tiada satupun dapat menyisihkan dia dari “satu-satunya yang penting” (Lk. 10:42). Ia sedemikian mengasihi Sang Guru,hingga ia bersedia mengorbankan diri seperti Dia.” Kata-kata Injil yang juga jadi favorite-nya, yang pernah ia tulis kepada Pst. Chevignard, tanggal 14 Juni 1903 “Yesus, yang mengasihi murid-murid-Nya di dunia ini, mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.”
Baginya isi Injil tersebut adalah sebagai berikut; “ adalah Cinta kasih Hati Ilahi dan Ekaristi. Ia dalam kita dan kita dalam Dia. Itulah Surga di dunia baginya. Surga dalam iman , dalam harapan di mana akan memandang dari hati ke hati.” Ia sering mengingatkan imam-imam yang pernah disuratinya, dengan kata-kata St. Paulus. “Ia sangat Mencintai kita.” Dan “Baiklah kita menyediakan tempat bagi-Nya, tempat bersemayam dalam hati kita. Dan baiklah kita menjadikan hidup kita ini sebagai komuni yang tak terputus-putus, suatu gerak sederhana menuju Allah.” (Kelak surat-suratnya semakin bernuansa mistik, khususnya sejak ia mulai menderita sakit yang berat, yang juga menghantarnya kepada hidup rohani yang semakin dalam dan matang.)
Santa Elisabeth pun memiliki hati emas dan hangat, tidak keras, tapi tegas yang manis yang mana Setiap jiwa ditariknya kepada persatuan dengan Yesus Sang Guru Ilahi. Sebagaimana ia setia menghayati ajaran St. Teresa dari Avila yang dalam hidupnya selalu berusaha berada di samping Guru Ilahi yang dipandangnya sebagai Sahabat Sejati. Inipun pernah diungkapkannya kepada Ibunya tercinta, tertanggal 13 Agustus 1903, katanya: “ Mama yang tercinta, ……….. Aku menulis surat ini sebelum doa Matutina (Ibadat Penutup). Kamar saya sangat sunyi, hanya Allah yang hadir. Hal ini kan tak mungkin menyedihkan Ibu? Aku demikian bahagia dalam Karmel. Dalam pikiranku aku selalu mengikuti Ibu di mana pun Ibu berada. Entah di rumah, entah berkunjung ke famili. Tidak mungkin terjadi pemisahan antara Ibu dan aku, asal Ia yang bersemayam dalam hatiku juga hadir di dalam hati Ibu. Dengan cara demikian kita berdua selalu berdampingan.”
Elisabeth, seorang wanita yang berpikir real, biarpun tutur-katanya manis sedap di dengar, ia sungguh memahami dan sadar bahwa bila menderita atau sakit itu pun bagian dari hidup yang perlu diterima dengan rasa hormat, dikatakannya kepada Ibunya: “Tetapi jangan takut, bila sakit. Mintalah kekuatan dari pada-Nya” Ia sendiri mengalami krisis yang paling berat, di hari Minggu, 13 Mei 1906. Ibu Priorinnya menulis demikian kepada Kanonik Angles:
“Kami semua mengira akan kehilangan dia dalam krisis sakit selama beberapa jam, sejak jam 4 pagi hingga jam 2 siang. Sejak itu dapat digambarkan, betapa berat penderitaannya, badan yang sudah lemas itu. Elisabeth menyerupai “KRISTUS PADA KAYU SALIB” Iapun meninggalkan pesan, yang menggema lebih terang dan lebih murni: “Segala sesuatu, yang dilakukan tidak dengan Allah dan tidak untuk Allah memang hampa! Aku mohon kepadamu, tandailah segala sesuatunya dengan CINTA KASIH. Hanya itulah satu-satunya yang masih tersisa. “ (Srt. 156).
Disamping itu ia pun pandai mengungkapkan kata-kata yang menyejukkan dengan mereka yang berpisah dengannya. Katanya dalam sepucuk surat kepada Francoise de Sourdon, tertanggal 23 Agustus 1903,:
”Untuk memelihara Francoise sekarang aku tidak lagi dapat mengambil kereta api untuk berangkat. Dan bahkan juga tidak dapat menulis sebanyak seperti aku mau. Tapi Francoise kan engkau tentunya merasa, bahwa aku selalu di sampingmu. Kita saling mencintai. Francoise yang manis, ketahuilah jika Allah memisahkan kita, itu maksudnya supaya Ia menjadi temanmu, yang selalu dapat kautemui.”
Sebagai penutup dari artikel sederhana ini, semoga teman-teman muda yang juga mencintai spiritualitas Karmel Teresiana kiranya terhibur dan biarlah kata-kata Santa Elisabeth ini memberi semangat bagi kita semua yang rindu memasuki persahabatan yang lebih mendalam dan mesra dengan Allah Tritunggal yang kita imani telah menyelenggarakan seluruh kehidupan kita hingga saat ini.
Demikianlah dikatakannya; “Baiklah kita mempersembahkan kurban yang besar maupun kecil kepada Dia. Jiwa yang hidup di bawah pandangan Allah. Merasa dibekali dengan kekuatan dan tentu menjadi kuat dalam penderitaan.” Katanya pula di penghujung hidupnya; dalam suratnya awal November 1906: “Pada saat-saat terakhir pengasinganku ini, pada waktu senja hidupku, yang indah bagiku ialah bahwa segala sesuatu seolah-olah menjadi begitu serius dalam terang keabadian” “Seandainya segenap jiwa dapat mendengarkan daku. Aku hampir berani mengatakan kepada mereka, sungguh hampa dan tidak berarti segala sesuatu, yang tidak dilakukan demi Allah”
Semoga ini menjadi permenungan kecil bagi para kawula muda di manapun Anda berada. Salam Persaudaraan Karmel.
Usually I do not read article on blogs, but I wish to say that this write-up very forced me to try and do so! Your writing style has been surprised me. Thanks, very nice post.
That is really interesting, You’re an excessively skilled blogger. I’ve joined your rss feed and sit up for searching for extra of your wonderful post. Also, I’ve shared your site in my social networks!