
Saat Renungan Hari Raya St. Teresa dari Yesus
1. Perhatikanlah sekarang apa yang dikatakan oleh Guru kamu: Yang ada di surga.[i] Menurut kamu apakah tidak terlalu penting untuk mengetahui apa itu surga dan di mana kamu harus mencari Bapa kamu yang tersuci? Nah, saya berkata kepada kamu bahwa untuk pikiran yang mengembara, sangat penting tidak hanya untuk mempercayai kebenaran ini tetapi untuk berusaha memahaminya melalui pengalaman. Melakukan hal ini adalah salah satu cara untuk sangat menenangkan pikiran dan memusatkan jiwa kembali.
2. Kamu sudah tahu bahwa Tuhan ada dimana-mana. Maka jelaslah, bahwa di mana Raja berada, di situ ada pula para pengiring-Nya; singkatnya, dimanapun Tuhan berada, di situlah surga. Tanpa ragu kamu dapat percaya bahwa di mana Yang Mulia hadir, semua kemuliaan pun hadir. Pikirkan apa yang dikatakan St. Agustinus, bahwa dia mencari Allah di banyak tempat tetapi akhirnya menemukan-Nya di dalam dirinya sendiri.[ii] Menurut kamu apakah tidak terlalu penting bagi jiwa dengan pikiran yang berkeliaran untuk memahami kebenaran ini dan melihat bahwa tidak perlu pergi ke surga untuk berbicara dengan Bapa abadinya atau menemukan kenikmatan di dalam Dia? Juga sama sekali tidak perlu berteriak. Betapapun lembutnya kita berbicara, Dia cukup dekat untuk mendengarkan kita. Juga tidak perlu sayap untuk pergi menemukan-Nya.[iii] Satu-satunya yang perlu dilakukan adalah berada dalam kesendirian dan memandang-Nya dalam dirinya sendiri, dan tidak berpaling dari Tamu yang begitu baik tetapi dengan kerendahan hati berbicara kepada-Nya bagai kepada seorang bapa. Mintalah kepada-Nya seperti yang kamu minta kepada seorang bapa; ceritakan tentang cobaan-cobaan yang kamu alami; mintalah kepada-Nya obat untuk melawan cobaan-cobaan itu, dan menyadari bahwa kamu tidak layak menjadi putri-Nya.
3. Singkirkanlah semua rasa takut-takut yang dimiliki yang oleh beberapa orang dan dianggap sebagai kerendahan hati. Lihatlah, kerendahan hati bukan terdiri dari menolak anugerah yang ditawarkan oleh Raja kepada kamu tetapi dalam menerima anugerah seperti itu dan memahami betapa limpahnya hal itu datang kepada kamu dan menjadi senang karenanya. Betapa bagusnya jenis kerendahan hati ini! Saya memiliki Raja penguasa langit dan bumi di rumah saya (karena Dia datang untuk memberikan anugerah kepada saya dan berbahagia dengan saya), dan karena rendah hati, saya tidak mau menjawab-Nya atau tinggal bersama-Nya atau mengambil apa yang Dia berikan kepada saya, tapi saya meninggalkan Dia sendirian. Atau, ketika Dia memberi tahu saya dan meminta saya untuk memohonkan sesuatu, saya tidak melakukan hal itu dan tetap miskin; dan saya bahkan membiarkan Dia pergi, karena Dia melihat bahwa saya tidak pernah selesai-selesai untuk mencoba mengambil keputusan.
Hal semacam ini tidak ada hubungannya dengan kerendahan hati, putri-putriku, tetapi berbicaralah dengan-Nya seperti dengan seorang bapa, atau seorang saudara laki-laki, atau seorang tuan, atau dengan seorang mempelai; terkadang dengan cara ini, di waktu lain dengan cara lain; Dia akan mengajari kamu apa yang harus kamu lakukan untuk menyenangkan Dia. Jangan bodoh; percayalah pada-Nya. Karena Dia adalah Mempelai kamu, Dia akan memperlakukan kamu sesuai dengan itu. [Pikirkanlah bahwa sangatlah bermanfaat bagi kamu untuk memahami kebenaran ini: bahwa Tuhan ada di dalam kita, dan bahwa di sanalah kita harus bersama-Nya.]
9. Nah, marilah kita bayangkan bahwa di dalam diri kita ada sebuah istana yang luar biasa berharga, seluruhnya dibangun dari emas dan batu mulia; singkatnya, dibangun untuk tuan seperti ini. Bayangkan juga, sebagaimana memang demikian, bahwa kamu memiliki peran untuk dimainkan agar istana menjadi begitu indah; karena tidak ada bangunan seindah jiwa yang murni dan penuh kebajikan. Semakin besar kebajikan, semakin gemerlap permata itu. Bayangkan, juga, bahwa di istana ini berdiamlah Raja yang berkuasa ini yang telah cukup murah hati untuk menjadi Bapamu; dan bahwa Dia duduk di atas takhta yang sangat berharga, yaitu hatimu. (Way 28; St Teresa dari Yesus)
[i] Mt 6:9.
[ii] Suatu referensi, baik untuk pseudo-Augustinian Soliloquies, bag.31; atau Confessions, X, bag.27. Lihat RH 40.6.
[iii] Mengacu kepada Mz 55:7.