
Kenangan Indah Bersama PAUS FRANSISKUS
Pada tanggal 29 Juni 2016, Paus Fransiskus mengeluarkan Konstitusi Apostoliknya untuk para wanita hidup kontemplatif, Vultum Dei Quarere yang membahas hidup kontemplatif para rubiah di zaman ini. Dua tahun kemudian keluar Instruksi Cor Orans yang menerapkan apa yang ada dalam Vultum Dei Quarere. Dua dokumen resmi ini sungguh menyatakan perhatian dan penghargaan Bapa Suci untuk hidup kontemplatif dan juga cara-cara baru yang beliau minta dari kami semua sesuai dengan tanda-tanda zaman. Akibatnya semua biara kontemplatif perlu update Konstitusi mereka dengan dokumen yang terbaru. Inilah yang membawa saya ke Roma mewakili OCD Indonesia dan Timor Leste untuk bersama-sama dengan 57 rubiah OCD lainnya, perwakilan dari berbagai belahan dunia untuk pertemuan di Nemi, 1 jam dari kota Roma pada tgl. 14-20 April 2024.
Salah satu agenda pertemuan yang membuat kami semua sangat “excited” adalah audiensi pribadi dengan Paus Fransiskus pada tanggal 18 April 2024. Pertemuan diadakan di Clement Hall di dalam istana kepausan. Area ini tidak untuk umum dan dijaga oleh pasukan Swiss Guards. Kami menaiki tangga marmer yang lebar dan sangat indah. Ada 200 anak tangga tetapi tidak melelahkan karena hati penuh dengan sukacita untuk bertemu dengan Paus Fransiskus. Kami sampai di ruangan sangat indah dengan lukisan-lukisan sampai ke langit-langit. Lantai marmernya juga punya corak yang indah dan antik. Betul-betul istana yang indah. Kami masuk ke Clement Hall dan menanti kedatangan Bapa Suci dengan penuh semangat. Namun protokolnya agak ketat: tidak boleh memeluk Bapa Suci dan bicara terlalu lama, tidak perlu berlutut dan tidak boleh membawa benda-benda rohani untuk diberkati. Wah padahal ini semua yang ingin saya lakukan. Kami hanya perlu memberitahu negara asal kami.
Ketika Bapa Suci masuk ruangan kami semua tepuk tangan kuat-kuat. Beliau berjalan perlahan-lahan dengan tongkat. Meskipun langkahnya pelan dan agak tertatih-tatih namun ekspresi dan pancaran dari mata beliau sangat tajam dan penuh energi. Setelah duduk, Paus Fransiskus memberkati kami dan menyampaikan pidato singkat dalam bahasa Spanyol. Suaranya datar dan tanpa ekspresi tetapi isi dari pidato sangat berbobot. Beliau mengingatkan bahwa hidup kontemplatif bukanlah pelarian dari dunia untuk terserap dalam diri sendiri dan dunia rohani pribadi. Hidup kontemplatif ada dalam tegangan antara terpisah dari dunia tetapi juga dibenamkan dalam dunia. Dibenamkan dalam dunia untuk menjadi saksi cinta karena hidup doa dan hidup rohani adalah jalan cinta. Bapa Suci mengajak kami untuk melihat ke masa depan tetapi tetap berakar dalam masa lalu terutama dalam karisma St. Teresa dari Avila dan St. Yohanes dari Salib. Beliau mengajak kami untuk memiliki pengharapan injili yang tidak bergantung pada kalkulasi manusia dan strategi untuk mempertahankan diri tetapi untuk hidup dalam penyerahan kepada Tuhan.
Setelah pidato singkat, kami semua berbaris untuk perjumpaan pribadi dengan Bapa Suci. Wah rasanya seperti mimpi bisa berada di sini. Paus Fransiskus sangat ramah dan terus tersenyum menyapa kami satu persatu. Beberapa suster sudah siap dengan hadiah untuk beliau. Ketika giliran saya, saya ungkapkan dalam bahasa Inggris bahwa saya dari Indonesia dan kami di Indonesia mencintai dan mendoakan Bapa Suci. Saya kehabisan kata-kata. Maunya sih lama-lama di situ. Setelah bersalaman satu kali, saya kembali memegang tangan beliau. Tetapi tidak bisa lama-lama karena pengawas protokol sudah memandang dengan isyarat supaya jangan lama-lama. Bapa Suci juga menepuk tangan saya dan mengatakan “Very kind of you”. Setelah itu kami masing-masing mendapat rosario cantik warna putih. Ajaib sekali saya bisa bersalaman dengan Paus Fransiskus.
Saya bayangkan setiap hari beliau bertemu dengan begitu banyak orang dan pasti bermacam-macam orang. Jadwalnya diisi hanya untuk orang lain. Dengan usia yang semakin tua dan kekuatan fisik yang semakin berkurang, beliau tetap semangat meskipun terlihat letih. Tuhan sungguh bekerja melalui kemanusiaan dan keterbatasannya di masa tua. Dalam kesempatan ini, Pater General memberikan Bapa Suci sebuah kotak yang isinya surat-surat dari para uskup dan umat Allah yang memohon semoga St. Edith Stein boleh diangkat sebagai pujangga gereja. Setelah itu kami semua foto bersama. Luar biasa, saya bisa mengalami ini semua, terlalu dalam untuk diungkapkan.
Setelah itu, Bapa Suci mengambil tongkatnya dan berjalan perlahan-lahan untuk meninggalkan ruangan. Tiba-tiba beliau berhenti dan menoleh ke arah kami semua sambil mengatakan kurang lebih seperti ini: apapun situasi hidup kami bahkan meskipun sudah seperti abu, jangan pernah melepaskan panggilan kontemplatif kami. Sangat menyentuh. Dan beliau keluar ruangan dengan diiringi tepuk tangan dari kami semua.