
Nada te turbe
Nada te turbe, nada te espante,
Dios no se muda.
Qien a Dios tiene, nada le falta,
la paciencia todo lo alcanza.
todo se pasa.
Solo Dios, Basta.
(Tidak ada apa-pun yang menakutkanmu;
Tidak ada apa-pun yang mencemaskanmu
Segalanya berlalu.
Allah tidak membisu.
Siapa yang memiliki Allah, tidak kekurangan apa-pun
Kesabaran menggapai segalanya.
Allah saja, cukup).
Puisi ini ditulis oleh St. Teresa dari Yesus (Avila) lima abad yang lalu sekitar tahun 1565-1570. Gema dan getaran pesan rohani dan kemanusiaannya terus terdengar dan diperdengarkan. Puisi ini sudah banyak dilagukan. Gemanya sungguh meneduhkan nurani dan hidup.
Latar belakang puisi ini juga menarik disimak. Ia lahir dipengaruhi oleh situasi sosial pada saat itu. Gerakan protestantisme begitu getol di wilayah Eropa. Banyak teolog Katolik yang menyeberang. Umat bingung dengan situasi ini. Tapi, Gereja sigap mengambil langkah pencegahan agar umat tidak bimbang dan ragu akan imannya sendiri. St. Teresa saat itu sudah sedang mendirikan Karmel Tak Berkasut-nya. Ia seakan menghidupkan kembali semangat Gunung Karmel yang menjadi tempat perjuangan rohani para pejuang perang salib, yang sudah lelah berperang dengan senjata. Teresa sadar bahwa perjuangan spiritual menjadi pilihan istimewa. Ia dan para suster-nya sudah berjuang secara rohani dengan berdoa membela Gereja, berdoa bagi para pengkotbah, bagi para imam dan pejuang Gereja. Ia yakin bahwa perjuangan rohani dengan doa menjadi satu langkah pasti. Maka berdoa bagi mereka yang berada di garis depan membela iman menjadi pilihan Teresa.
Di sisi lain, Teresa, lewat puisi ini memberikan sebuah pengajaran tentang beriman yang benar dan sadar kepada Allah yang benar. Tuntutan sosial ekonomi bisa menghantar orang beralih dari Allah kepada kekuatan lain yang seakan lebih pasti dan cepat. Orang beriman dan keberimanan yang instan dan cepat. Tanpa proses yang menuntut korban dan kesabaran. Allah seakan dipaksa untuk cepat menjawabi kebutuhan pendoa. Berdoa bukan memperlihatkan kepasrahan tetapi justru mau mengatur dan mengendalikan Tuhan lewat doanya. Bila doanya tidak terkabul, maka “selamat tinggal Tuhan”, kami cari Tuhan yang lain”. Situasi keberimanan ini juga dialami dilingkup sosial dan keberagamaan masa Teresa.
Teresa mengawali puisinya ini dengan ajakan yang bernada sangat positif. Nada te turbe, nada te espante. (Tidak ada apa-pun yang mengganggumu atau menakutkanmu). Banyak terjemahan yang kita jumpai secara negatif: “Janganlah takut, Janganlah cemas”. Tapi dalam bahasa asli, St. Teresa tidak menggunakan ekpresi perintah ini, karena Ia tidak berdiri sebagai seorang pemimpin atau yang berkuasa. Teresa tidak sedang menyuruh atau memerintah agar orang lain mentaati apa yang ia katakan. Tapi ekspresi positif digunakan oleh Teresa, karena ini adalah pengalamannya sendiri. Pengalaman ini yang ingin ia bagikan: “Tidak ada apa-pun mengganggumu, mencemaskanmu”. Keindahan dan kedamaian hati yang dihasilkan oleh orang yang berpasrah kepada Tuhan. Ia membagi pengalamannya tentang bagaimana indahnya berpasrah, indahnya beriman yang benar.
Teresa merasa ada damai di batin. Damai yang mendalam. Ia alami sendiri di kedalaman nuraninya. Di atas segala kekacauan sosial, dan disamping segala usaha pendirian biara-nya yang menyita tenaga dan waktu, serta kesibukan harian yang melelahkan, Teresa sanggup bermadah: Nada te turbe (Tidak ada apa-pun yang mengganggumu.). Madah yang memperlihatkan keyakinan teguh bahwa Ia memiliki seorang Allah “Quien a Dios tiene”. (Siapa yang memiliki Allah). Jadi kalau kita menggunakan kata ganti orang pertama, St. Teresa sendiri katakan demikian: “Saya punya Allah. Tuhan ini sudah saya pilih dan miliki. Ia milikku dan aku miliki-Nya. Mustahil Allah ini meninggalkan dan membiarkan saya berjuang sendiri. Allah yang sudah saya miliki ini tidak mungkin membiarkan saya dalam kecemasan dan ketakutan”.
Bagian awal puisi ini ingin menyatakan dan mengajak kita untuk tenang dan miliki kedamaian batin. Batin yang damai ibarat aliran air. Mengalir teduh menuju lautan luas. Kata-katanya terungkap lembut penuh yakin bahwa dimana kedamaian itu ada disitu ada kehidupan. Karena orang yang damai batinnya akan selalu mau lebih memberi, lebih mengasihi, lebih yakin, lebih bisa sabar menanggung segalanya. Kekuatan ini dimiliki karena pengalaman pribadi bahwa Allah tidak mungkin diam dan masa bodoh. Allah tidak mungkin berdiam diri dengan mereka yang mencintai dan setia kepada-Nya.
Ia bermadah yakin, bersama Allah, segala pengalaman sulit dan kecemasan hidup akan berlalu (Todos se pasa). Pribadi yang memiliki Allah lebih besar, agung dan mulia daripada segala persoalan yang dihadapi. Memiliki Allah menjadi penting. Menjaga agar Allah tetap berdiam dalam hati dan bercampur tangan dalam hidup menjadi syarat berlalunya segalanya. Allah yang dimiliki menjadi kunci bahwa segala yang lain menjadi tidak penting dan sementara. Allah kekal dan kasih-Nya abadi. Apalagi yang dibutuhkan selain kasih dan cinta Allah? Semuanya tak ada nilai dan akan berlalu. Ini bisa sungguh dialami kalau Allah sungguh dimiliki. Karena Allah mustahil masa bodoh dengan kebutuhan kodrati kita. Rahmat bekerja dalam kodrat. Maka kodrat perlu diperhatikan. Tubuh dan seluruh kepentingannya juga menjadi istimewa karena disanalah rahmat bekerja dan manusia bis amengalirkan rahmat lewat dan dalam kodrat kemanusiaan kita.
Puisi ini menggambarkan sikap iman dan kepercayaan pada campur tangan Tuhan dalam hidup. Dalam hidup: “Todo se pasa”-Segalanya berlalu. Ia berlalu ibarat alunan musik yang hanya ada ketika dimadahkan atau dimainkan, kemudian ia berlalu. Namun, ada Pribadi-Tuhan yang tak berlalu dari hidup kita. Ia hadir selamanya, kalau manusia sungguh mengalami dan pasrah bergantung pada-Nya. Yang memiliki Tuhan, tidak akan merasakan kekurangan apapun, karena Ia sudah memiliki Pemiliki segalanya, yakni Allah. Kebutuhan utama manusia yakni merasa disayangi, dianggap dan dibutuhkan terpenuhi selalu dalam dan melalui Tuhan.
Bagaimana keseharian kita, anak-anak muda dan remaja sekarang dengan pengalaman iman St. Teresa ini? Saya pernah membaca sebuah kisah menarik. Dikisahkan: “Ada dua orang muda. Keduanya sedang dalam perjalanan. Seorang memegang lampu, dan satunya tidak membawa. Keduanya aman dalam perjalanan karena menggunakan lampu yang sama. Mereka kebetulan menyusuri jalan yang sama. Dia yang tidak membawa lampu berpikir ringan bahwa itu sudah dipunyai temannya. Mereka bisa menggunakan lampu yang sama untuk menerangi jalan.
Mereka sampai pada satu persimpangan jalan. Mereka harus berpisah. Pada saat itu, dia yang tak membawa lampu tersadar, bingung dan tak berdaya. Ia ada dalam kegelapan. Ia sungguh menderita. Pada saat itu seribu satu macam penyesalan dan peryataan kecewa muncul, mengapa dan mengapa. Mengapa saya dan seandainya saya? Demikian sederet tanya yang tak terjawab dan tak bermakna sama sekali. Orang sering katakan, susah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian. Tapi orang ini, senang-senang dahulu susah kemudian.
Seperti cerita tadi. Kita akan bahagia bila bisa bergantung pada orang lain. Ketergantungan akan mengurangi ketegangan dan tanggungjawab. Tak perlu harus menghadapi tantangan dan kesulitan karena ada yang mengaturnya. Inisiatif tidak tumbuh dan tak dituntut. Tapi ketika kegelapan dan kesulitan datang, kita menjadi hilang akal dan bingung karena memang tak membiasakan diri. Dalam situasi itu orang akan bertanya bagaimana dan mengapa, untuk menggugat dan mempersalahkan orang lain atau bahkan Tuhan.
St. Teresa mengajak kita untuk sungguh percaya dan yakin dengan apa yang Tuhan berikan. Ia mau mengajak bahwa memiliki Tuhan menjadi langkah pertama dan utama untuk memiliki segalanya. Melepaskan segala ego diri dan serahkan pada Tuhan. Kekurangan dan dan beban dosa membuat orang bergantung pada yang lain, tapi membebaskan diri untuk bisa berdiri dan yakin akan kebaikan Tuhan yang ada dalam diri kita. Orang yang memiliki Tuhan akan menjadi pemilik segalanya sehingga tidak perlu takut dan cemas. Semuanya berlalu. Allah saja, cukup. Carilah dahulu kerajaan-Nya, semua yang lain akan ditambahkan bagimu. Tuhan bisa mencukupi segala kebutuhan dan kerinduan terdalam hatimu. Tuhan tidak tinggal diam dan membisu. Ia hidup dan terus aktif untuk membebaskan manusia. Amin.
Penulis: Pater Chris Surinono ,OCD